Sejarah SIngkat tentang Sepeda BMX

BMX pertama kali dikenal pada tahun 1960 akhir hingga 1970 awal, belum jelas siapa pencetus pertamanya. Yang pasti sepeda ini awalnya banyak digunakan anak muda di California Selatan kala itu untuk adu balap di lintasan tanah yang terispirasi dari lomba motorcross yang sedang banyak digandrungi .

Di pertengahan tahun 1970, lomba BMX pun mulai banyak digelar, saat itu masih menggelar balapan Offroad alias lintasan tanah. Schwinn Sting-Ray adalah salah satu sepeda yang menjadi pilihan karena desain rangkanya mirip dengan motocross. Sepeda Schwinn Sting-Ray menggunakan ukuran ban 20 inchi, posisi setang tinggi, tempat duduk panjang dan mudah untuk dimodifikasi guna memaksimalkan control dan performa yang maksimal di jalan tanah.

Sepeda ini semakin tenar dengan adanya film dokumenter “On Any Sunday”, film ini berisi tentang motocross yang pada adegan pembukanya menampilkan pengendara Schwinn Sting-Ray dijalan offroad. Kemudian film ini mengisnpirasi munculnya olahraga dan balapan BMX.

BMX sendiri berasal dari kata Bicycle Motocross, dimana huruf “B” mewakili kata Bicycle, “M” untuk Motor sedangkan “X” untuk kata cross. Jadilah BMX, nama sederhana yang menjadi salah satu factor yang membuat sepeda ini semakin tenar.

Di tahun 1981 tepatnya pada bulan April, Federasi Internasional BMX dan pada tahun 1982 kejuaraan kelas dunia pertama kali diselenggarakan. Mulai tahun 1993, BMX di tetapkan sebagai bagian dari Union Cyclist International (UCI) yang merupakan induk olahraga sepeda internasional yang bermarkas di Aigle, Swiss. BMX freestyle mulai masuk dalam cabang olahraga Olimpiade Jepang pada tahun 2022.

Pada awal kemunculannya, sepeda BMX lebih ditujukan untuk balapan, namun pada perkembangannya sepeda BMX berkembang dan memunculkan beragam aliran freestyle.

DI Indonesia demam BMX juga “mewabah” dan banyak anak muda yang senang bermain sepeda BMX, namun kurangnya fasilitas bermain membuat pamor BMX kurang berkembang. Para pemain BMX kala itu hanya membuat rintangan seadanya secara swadaya untuk melakukan trik lompatan atau mempelajari trik akrobatik aliran flatland yang tidak terlalu membutuhkan fasilitas penunjang apapun.

Pamor BMX pun sempat turun ketika tren sepeda MTB (Mountain Bike) mulai menjadi salah satu pilihan sepeda dan membuat sebagian pengguna BMX pun beralih ke sepeda MTB khususnya mereka-mereka yang sudah mulai berumur.

Sepeda BMX memang identik dengan anak muda dan kaum anti kemapanan yang ingin mengekspresikan kebebasan menjelajah kota dengan menerjang hambatan yang ada. Dengan sepeda BMX kita bisa melewati penghalang dengan mudah, akses kemanapun gampang karena sepeda BMX sangat fleksibel, mudah dijinjing dan menyelip-nyelip di antara gang sempit. Kalau ketemu trotoar, tinggal lompat, hup. Kalau gak bisa lompat, jinjing saja sepedanya, beres.